putrizedzed











{11/19/2011}   Gerakan Sanusiyah

A.    Sejarah Lahirnya Gerakan Sanusiyah

Berawal dari imperium Turki Ottoman yang mulai melemah yang disebabkan kemunduran ekonomi di dunia Islam dan kemerosotan pada bidang budaya karena para pembesar Turki mulai mendewakan gaya hidup hedonis. Hal ini mengundang keprihatinan sebagian tokoh-tokoh muslim, di antaranya Jamaluddin Al-Afghani dan Muhammad Abduh. Mereka mengajak umat Islam untuk merekonstruksi Islam, antara lain dengan menata kembali perekonomian, pengetahuan dan keilmuwan.

 

Di sisi lain dari wilayah Turki Ottoman, lahirlah sebuah gerakan—yang disebut gerakan Sanusiyah—yang di pelopori oleh Muhammad Ali As-Sanusi.  Syeikh Muhammad bin Ali as-Sanusi dilahirkan pada hari Isnin 12 Rabiul Awal 1202H/22 Disember 1787M di sebuah tempat yang bernama al-Wasitah, di Mustaghanim, Algeria. Syeikh Muhammad Ali as-Sanusi adalah seorang ulama yang ikhlas dan suka merendahkan dirinya. Oleh itu, beliau telah mencapai kemajuan yang pesat di atas jalan kerohanian. Tarekatnya bebas dari syirik dan khurafat. Beliau menyeru kepada ijtihad dan memerangi taqlid. Syeikh as-Sanusi yang bermazhab Maliki, akan menyalahi pendapat mazhabnya jika ada mazhab lain yang lebih mendekati kepada kebenaran.

 

Muhammad bin Ali As-Sanusi adalah seorang pemimpin dari pemimpin Islam dari Afrika Utara abad ke-19 yang paling berpengaruh. Ia menciptakan suatu organisasi yang merambah sebagian besar dari Sahara tengah dan ujung padang pasir dan mempunyai pengaruh yang sangat luas lagi mendalam pada masyarakat Badui pada negeri yang sekarang ini terkenal dengan nama Libya. Tarikat ini memainkan peranan yang sangat penting dalam melawan Perancis di Sahara dan Italia di Cirenaica dan merupakan musuh bebuyutan terhadap kemajuan dan pemikiran kaum kolonialis. Cucunya menjadi penguasa pertama Libya merdeka. Memang wilayah yang kemudian terkenal dengan nama Libya dalam beberapa hal dapat dikatakan timbul dari kegiatan-kegiatan tarikat-tarikat Sanusiyah.

 

Namun demikian, cikal bakal pendiri utama, yaitu As-Sanusi, bukan merupakan pemikir atau pemimpin politik. Perhatian dan kegiatannya sepenuhnya berpusat sekitar dunia agama dan ilmu pengetahuan. Dalam tulisannya tidak ditemukan tanda-tanda perhatiannya terhadap penjajahan Barat atau Kristen di negeri-negeri Islam. Organisasi yang mempunyai pengaruh yang begitu luas dalam kehidupan Sahara tengah dan ujung padang pasir ini hanya merupakan organisasi agama suatu tarikat sufi. Maka sejarah As-Sanusiyah merupakan sejarah transformasi dari struktur agama pada struktur politik. Hal ini terjadi dengan perantaraan menggabungkan sifat-sifat spiritual dari tarikat sufi dengan identitas etnis orang-orang Badui Sahara dan rakyat sekitarnya menjadi satu kesatuan yang boleh dikatakan sebagai protonasionalis.

B.     Pengaruh Gerakan as-Sanusiyah

Perkembangan gerakan as-Sanusiyah melalui zawiyat-zawiyat alami(oasa-oasa gunung sahara), ridwan marbud (penjaga atau pengurus masjid), gerakan sanusiyah terus berkelana atau berdakwa untuk masyarakat yang telah lalai terhadap ajaran islam,tidak dinamis, dan fatalis atau orang yang menyerah saja pada nasib.

 

Selain berdakwah untuk masyarakat islam, tariqat sanusiyah juga aktif berdakwah kepada beberapa suku afrika yang masih menyembah berhala, misalnya suku baele di negri Ennedi atau di sebelah Borku yang masih menyembah batu dan suku Tedas Ditu atau Tibesti atau di Gurun Sahara di sebelah Fezzan. Tariqat ini juga berhasil mengislamkan Masy di negri Galla. Setelah menjalani aktiselama [puluhan tahun dan sukses , tarikat sanusiah menjadi suatu garakan penting dalam islam, gerkan ini memilki rumah-rumah peribadatan yang tersebar, mulai dari mesir sampai jauh ke pedalamn Maroko dan daerah-daerah oase di gurun Sahara dan Sudan .pengikut baru juga datang dari Afrika utara tarikat sanusiah menyebar atau masuk ke Senegal Gambia, dan Somalia Melaki Sudan. Pengaruh tarikat Sanusiah juga terdapat di Mekah ,Madinah, Iran,Irak dan bahkan sampai ke Indonesia dan Malaysia

Sepanjang perkembangan dan perluasannya , gerakan sanusiah tetap memegang teguh ajaran asli dari Sanusi al-kabir. Gerakan AS-sanusiah mencapai puncaknya pada kepemimpinan Said Al-mahdi 1858-1902, baik dari sgi jumlah Zaiwiyyah maupun pengaruhnya. Jagbub tetap menjadi pusat gerakan, hingga Kufrah di jadikan ibu kota bagi gerakan sanusiah . Corak Pemikiran AS-Sanusi :

  • Sanusiyah merupakan gerakan dakwah Islam, islah dan tajdid.
  • Secara umumnya mereka berpegang dengan al-Quran dan al-Sunnah dengan pengaruh tasawuf.
  • Ia muncul di Libya pada kurun ke-13 H.
  • Tersebar luas hingga ke Selatan Afrika, Sudan, Somalia dan sebahagian negara Arab.
  • Gerakan ini terpengaruh dengan al-Imam Ahmad bin Hanbal, Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah, Abu Hamid al-Ghazali.
  • Gerakan ini juga terpengaruh dengan tasauf yang bersih dari syirik dan khurafat seperti bertawassul dengan orang mati dan orang soleh.
  • Pengasas gerakan ini adalah Muhammad bin Ali as-Sanusi yang bermazhab Maliki, namun beliau akan menyalahi mazhab berkenaan jika di sana ada kebenaran bersama mazhab lain.
  • Dalam berdakwah kepada Allah, gerakan ini menggunakan cara lembut dan berhikmah.
  • Mereka menekankan dalam kerja-kerja tangan dan sentiasa berjihad Fi Sabilillah menentang penjajah, Salibi dan sebagainya.

 

Oleh penulis-penulis Barat, As-Sanusi dan tarikatnya sering sekali disebut sebagai reformasi atau pembaharu dan revivalis atau pembangkit. Sebutan yang kedua, misalnya, ditemukan dalam buku Nicola A. Ziyadeh, Sanusiyah Study Of Revivalist Movement in Islam (Leiden, 1958), sedangkan sebutan yang pertama misalnya ditemukan dalam buku Muhammad Al-Thayyib Idris Al-Ashab, The Great Sanusi Exposition and Analysis of The Basis of The Sanusi Reform Movement/As-Sanusi Al-Kabir : Ard wa Tahlil li Di’amat Harakat al-Islah as-Sanusi. Tetapi sebutan-sebutan di atas baru-baru ini mendapatkan kritikan. Mereka mengatakan bahwa dalam pikiran-pikiran as-Sanusi sedikit sekali ajaran-ajaran yang dapat dikatakan reformasi atau pembaharuan, dan bahwa as-Sanusi dan pemikir-pemikir Muslim abad ke-19 itu pada asasnya hanya meneruskan arah yang sudah ada pada abad-abad sebelumnya. Kami kira as-Sanusi memang dapat dikatakan sebagai seorang pembaharu dalam tradisi. Selain seorang sufi, as-Sanusi juga ulama yang menguasai berbagai cabang ilmu pengetahuan Islam. Ia seorang sufi dalam pekerjaannya mendirikan zawiyah-zawiyah (pondok-pondok/pesantren-pesantren), tetapi dari sebagian besar tulisannya kita menemukan sebagai ulama tradisional yang mendalami berbagai cabang ilmu pengetahuan Islam. Barangkali yang paling menonjol adalah pembahasannya tentang prinsip-prinsip hukum Islam. Panggilannya untuk Ijtihad, yang pandangan-pandangan itu sangat berlawanan dengan ulama-ulama terkemuka di Kairo dan pusat-pusat keilmuwan Islam pada waktu itu. Ide-ide yang diajukan as-Sanusi yang berlawanan dengan pendapat para ulama waktu itu sebenarnya tidaklah timbul dari pikirannya sendiri. Sebagian besar pikirannya itu ada antisidennya dalam keilmuwan Islam, tetapi pada waktu itu ditolak atau dianggap tidak sah oleh para penguasa. As-Sanusi memperbaharui ide-ide itu dan dalam waktu yang sama membawa ide-ide itu dalam praktek dengan perantaraan tarikat, suatu organisasi yang dalam beberapa hal strukturnya berbeda dari sebagian besar tarikat-tarikat sufi pada waktu itu, bahkan pada dewasa ini. Jadi pembaharuan tarikat sanusiyah adalah kombinasi antara ide dan organisasi, antara teori dan praktek di padang pasir.



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

et cetera
%d bloggers like this: