putrizedzed











{11/19/2011}   Al-Ankabut : 45

Ayat dan Arti

اُتْلُ مَآ اُوحِيَ اِلَيْكَ مِنَ الْكِتَابِ وَاَقِمِ الصَّلَوةَ صلى اِنَّ الصَّلَوةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنْكَرِقلى وَلَذِكْرُ اللهُ اَكْبَرُقلى وَاللهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ

Arti : “Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu daripada al-Kitab dan dirikanlah shalat; sesungguhnya shalat itu mencegah dari yang keji dan yang munkar. Dan sesungguhnya ingat akan Allah itu adalah lebih besar. Dan Allah Mengetahui apa pun yang kamu perbuat.” (QS. Al-Ankabut : 45)

 

Tafsir Ayat

Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, daripada al-Kitab dan dirikanlah shalat.

Pada pangkal ayat ini, Rasulullah diberi tuntunan oleh Tuhan bagaimana caranya memperteguh jiwa menghadapi tugas yang berat (melakukan dakwah kepada manusia). Yaitu (1) Hendaklah dia selalu membaca, merenungkan, dan memahami isi dari wahyu-wahyu yang diturunkan Tuhan kepadanya. (2) Hendaklah mendirikan shalat. Pada kalimat selanjutnya dari ayat ini adalah “… Sesungguhnya shalat itu mencegah dari yang keji dan yang mungkar…” yang telah disebutkan secara jelas bahwa shalat yang kita kerjakan lima waktu itu (subuh, zuhur, ashar, magrib, dan isya) dapat membentengi kita dari perbuatan yang keji, seperti berzina, merampok, merugikan orang lain, berdusta, menipu dan segala perbuatan mungkar –yang dapat celaan dari masyarakat—karena shalat mengandung berbagai macam ibadat, seperti takbir, tasbih, berdiri di hadapan Allah, ruku’ dan sujud dengan kerendahan hati, seraya pengagungan, lantaran di dalam ucapan dan perbuatan shalat terdapat isyarat untuk meninggalkan kekejian dan kemungkaran.[1] Rasulullah pernah ditanya tentang tafsir ayat “Sesungguhnya shalat itu mencegah dari yang keji dan yang mungkar.” Dan jawaban Rasulullah adalah “Barangsiapa yang shalatnya tidak dapat mencegahnya daripada yang keji dan mungkar, maka tidaklah ada shalat baginya.

Sambungan ayat ini adalah “… Dan sesungguhnya ingat akan Allah itu adalah lebih besar…” Maksudnya adalah shalat merupakan gabungan dari amalan kita yang zahir, yang di dalam ilmu fiqh disebut rukun fi’li yang artinya bagian yang kita perbuat dalam mendirikan shalat. Sejak berdiri tegak menghadap kiblat, memasang niat, melafalkan takbir, membaca segala yang patut dibaca, ruku’, sujud, i’tidal, duduk antara dua sujud, sampai tahiyyat terakhir dan sampai salam. Tetapi semua itu menjadi kecil dan tidak berarti jika dalam mengerjakan shalat tersebut, kita tidak mengingat Allah. Maka ingat kepada Allah itulah yang terpenting atau paling besar dalam sembahyang.

Abul ‘Aliyah mengatakan bahwa pada shalat itu hendaklah dilatih mendirikan tiga keistimewaan, yaitu: (1) Ikhlas, artinya semata-mata satu saja tujuan, yaitu karena Allah. (2) Khasyyah, artinya takut amalan itu tidak akan diterima Allah. (3) Dzikrullah, artinya ingat kepada Allah dalam hati disertai dengan sebutan mulut. Ia mengatakan bahwa ikhlas mendorong kita berbuat yang ma’ruf. Khasyyah mencegah kita berbuat yang mungkar. Dzikrullah dalam shalat adalah seluruh ayat-ayat al-Qur’an dan bacaan anjuran Nabi yang dibaca. Zikir akan menyuruh yang baik dan melarang yang mungkar.[2]

Kalimat selanjutnya yang terakhir adalah “… Dan Allah Mengetahui apapun yang kamu perbuat.” Maksud dari penggalan terakhir arti dari ayat ini adalah bahwa kita tidak lepas dari penglihatan Allah. Allah mengetahui kebaikan dan keburukan yang kita perbuat, maka Ia akan membalasnya sesuai dengan amal yang telah kita perbuat. Jika baik maka, baik balasannya dan jika buruk, maka buruk pula balasannya.[3]

 

Mufrodat[4]

Kata ( اتل ) ‘utlu’ terambil dari kata ( تلاوة ) ‘tilawah’ yang pada mulanya berarti mengikuti. Seorang yang membaca adalah seorang yang hati atau lidahnya mengikuti apa yang terhidang dari lambang-lambang bacaan, misalnya aba (kita membaca huruf satu demi satu hingga lahirlah bacaan aba). Al-Qur’an membedakan penggunaan kata ini dengan dengan kata ( قراة ) ‘qiraah’ yang juga mengandung pengertian yang sama. Kata tilawah, jika yang dmaksud adalah membaca, maka objek bacaan adalah sesuatu yang agung dan suci, atau benar. Sedangkan qiraah, maka objeknya lebih umum, mencakup yang suci atau tidak suci, kandungannya boleh jadi positif atau negatif. Oleh karena objek di atas adalah wahyu, maka dari itu ayat ini menggunakan kata utlu yang artinya ikuti –secara harfiah—untuk mengisyaratkan bahwa apa yang dibaca itu hendaknya diikuti dengan pengamalan.

Kata ( الفحشاء ) ‘al-fahsya`a’ terulang di dalam al-Quran sebanyak 7 kali. Sedang kata munkar terulang sebanyak 15 kali. Menurut kamus bahasa al-Qur’an, al-fahsya`a terambil dari akar yang pada mulanya berarti sesuatu yang melampaui batas dalam keburukan dan kekejian, baik ucapan maupun perbuatan.

Kata ( المنكر ) ‘al-munkar’ pada mulanya berarti sesuatu yang tidak dikenal sehingga diingkari dalam arti tidak disetujui. Itulah sebabnya al-Quran memperhadapkan kata ‘mungkar’ dengan kata ‘ma’ruf’ yang berarti dikenal. Sementara ulama mendefinisikan kata-kata munkar, dari segi pandangan syariat adalah segala sesuatu yang melanggar norma-norma agama dan adat istiadat satu masyarakat. Dari definisi ini kata munkar lebih luas pengertiannya dari kata ma’shiyat/maksiat. Dari ayat yang menggandengkan kata al-fahsya’ dan al-munkar dapat disimpulkan bahwa Allah melarang manusia melakukan segala macam kekejian dan pelanggaran terhadap norma-norma masyarakat, dan shalat mempunyai peranan yang sangat besar dalam mencegah kedua bentuk keburukan itu bila dilaksanakan secara sempurna dan bersinambung.

Menurut Ibn ‘Asyur, kata ( تنهى ) tanha/melarang lebih tepat dipahami dalam arti majdzi, sehingga ayat ini mempersamakan apa yang dikandung oleh shalat, dengan “larangan”, dan mempersamakan shalat dengan segala kandungan dan substansinya dengan seorang yang melarang. Shalat mengandung sekian banyak hal yang mengingatkan kepada Allah, sehingga shalat merupakan pemberi ingat kepada yang shalat. Shalatlah yang nantinya melarang melakukan pelanggaran yang tidak diridhoi Allah. Karena itu pada ayat ini tidak menggunakan kata ( يصدّ ) yashuddu/membendung dan tidak pula menggunakan kata ( يحول ) yahulu/meghalangi, tetapi menggunakan kata ( ينهى ) yanha/melarang. Dan karena itulah waktu shalat diatur berbeda-beda agar berulang-ulang shalat tersebut melarang, menasihati dan mengingatkan, dan sebanyak pengulangannya sebanyak itu pula tambahan kesan ketakwaan dalam hati pelakunya serta sebanyak itu pula kejauhan jiwanya dari kedurhakaan.

Di dalam al-Qur’an tidak ditemukan satu perintah melaksanakan shalat atau pujian kepada yang melaksanakan kegiatan yang dimulai dengan takbir dan diakhiri salam itu, kecuali dibarengi dengan kata ( اقيموا ) aqimu atau yang seakar dengannya. Sedangkan jika berbicara tentang mereka yang mendustakan agama wajarlah jika mendapatkan neraka, ditunjukkannya orang-orang shalat itu dengan kata ( المصلّين ) al-mushallin. Kata yang pertama itu mengandung makna mengerjakan shalat secara berkesinambungan dan menaati syarat-syaratnya serta rukun-rukunnya. Sedangkan kata yang kedua maksudnya adalah kalaupun mengerjakan shalat, tetapi shalat mereaka tidak khusyu’ sehingga tidak sempurna dan tidak mengikuti syarat serta rukunnya.

Kata ( ذكر ) dzikr digunakan dalam arti potensi dalam diri manusia yang menjadikannya mampu memelihara pengetahuan yang dimilikinya. Shalat dinamai dzikr karena dalam shalat mengandung ucapan-ucapan serta ayat-ayat al-Qur’an yang harus diucapkan. Tujuannya adalah untuk mengingat Allah. Ada yang memahami ayat ini dalam arti sesungguhnya dzikir dan “ingatan” Allah terhadapmu lebih besar dan lebih banyak daripada dzikir manusia kepada Allah. Ada juga yang memahami kata dzikir ini dalam arti “mengingat semua perintah dan larangan Allah” sehingga maknanya adalah pengawasan melekat yang mendorong kepada ketaatan secara sempurna.

Yang terakhir adalah kata ( تصنعون ) tashna’un digunakan untuk menunjuk perbuatan yang dilakukan seseorang yang mahir dan terampil. Menurut al-Biqa’i, shalat dan amal saleh memerlukan latihan kejiwaan dan pengulangan pengamalan agar ia menjadi kebiasaan yang melekat.

 

Referensi :

–          Al-Maraghi, Ahmad Mushthafa. 1986. Terjemah Tafsir Maraghi. Semarang : CV. Toha Putra.

–          Amrullah, Abdulmalik Abdulkarim. 1988. Tafsir Al-Azhar. Jakarta : PT. Pustaka Panjimas

–          Shihab, M. Quraish. 2002. Tafsir Al-Mishbah. Tangerang : Lentera Hati.


[1] Ahmad Mushthafa Al-Maraghi, Terjemah Tafsir Al-Maraghi, (Semarang: CV. Toha Putra, 1986), hlm. 252.

[2] Prof. Dr. H. Abdulmalik Abdulkarim Amrullah, Tafsir al-Azhar, (Jakarta: PT. Pustaka Panjimas, 1988), hlm. 4-5.

[3] Ahmad Mushthafa Al-Maraghi, Terjemah Tafsir Al-Maraghi, (Semarang: CV. Toha Putra, 1986), hlm. 253.

[4] M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah, (Tangerang: Lentera Hati, 2002), hlm. 506-512.



Nash Hadits Beserta Arti dan Takhrijnya

حدثنا محمد بن مقاتل: أخبرنا عبد الله: أخبرنا أبو حيان التيمي، عن أبي زرعة بن عمرو بن جرير، عن أبي هريرة رضي الله عنه قال:

أتي رسول الله صلى الله عليه وسلم بلحم، فرفع إليه الذراع، وكانت تعجبه، فنهس منها نهسة ثم قال: (أنا سيد الناس يوم القيامة، وهل تدرون مم ذلك؟ يجمع الله الناس الأولين والآخرين في صعيد واحد، يسمعهم الداعي وينفذهم البصر، وتدنو الشمس، فيبلغ الناس من الغم والكرب ما لا يطيقون ولا يحتملون، فيقول الناس: ألا ترون ما قد بلغكم، ألا تنظرون من يشفع لكم إلى ربكم؟ فيقول بعض الناس لبعض: عليكم بآدم، فيأتون آدم عليه السلام فيقولون له: أنت أبو البشر، خلقك الله بيده، ونفخ فيك من روحه، وأمر الملائكة فسجدوا لك، اشفع لنا إلى ربك، ألا ترى إلى ما نحن فيه، ألا ترى إلى ما قد بلغنا؟ فيقول آدم: إن ربي قد غضب اليوم غضبا لم يغضب قبله مثله، ولن يغضب بعده مثله، وإنه نهاني عن الشجرة فعصيته، نفسي نفسي نفسي، اذهبوا إلى غيري، اذهبوا إلى نوح فيأتون نوحا فيقولون: يا نوح، إنك أنت أول الرسل إلى أهل الأرض، وقد سماك الله عبدا شكورا، اشفع لنا إلى ربك، ألا ترى إلى ما نحن فيه؟ فيقول: إن ربي عز وجل قد غضب اليوم غضبا لم يغضب قبله مثله، ولن يغضب بعده مثله، وإنه قد كانت لي دعوة دعوتها على قومي، نفسي نفسي نفسي، اذهبوا إلى غيري، اذهبوا إلى إبراهيم فيأتون إبراهيم فيقولون: يا إبراهيم، أنت نبي الله وخليله من أهل الأرض، اشفع لنا إلى ربك، ألا ترى إلى ما نحن فيه؟ فيقول لهم: إن ربي قد غضب اليوم غضبا لم يغضب قبله مثله، ولن يغضب بعده مثله، وإني قد كنت كذبت ثلاث كذبات – فذكرهن أبو حيان في الحديث – نفسي نفسي نفسي، اذهبوا إلى غيري، اذهبوا إلى موسى فيأتون موسى فيقولون: يا موسى، أنت رسول الله، فضلك الله برسالته وبكلامه على الناس، اشفع لنا إلى ربك، ألا ترى إلى ما نحن فيه؟ فيقول: إن ربي قد غضب اليوم غضبا لم يغضب قبله مثله، ولن يغضب بعده مثله، وإني قد قتلت نفسا لم أومر بقتلها، نفسي نفسي نفسي، اذهبوا إلى غيري، اذهبوا إلى عيسى فيأتون عيسى فيقولون: يا عيسى، أنت رسول الله، وكلمته ألقاها إلى مريم وروح منه، وكلمت الناس في المهد صبيا، اشفع لنا، ألا ترى إلى ما نحن فيه؟ فيقول عيسى: إن ربي قد غضب اليوم غضبا لم يغضب قبله مثله قط، ولن يغضب بعده مثله – ولم يذكر ذنبا – نفسي نفسي نفسي، اذهبوا إلى غيري، اذهبوا إلى محمد صلى الله عليه وسلم فيأتون محمدا صلى الله عليه وسلم فيقولون: يا محمد أنت رسول الله، وخاتم الأنبياء، وقد غفر الله لك ما تقدم من ذنبك وما تأخر، اشفع لنا إلى ربك، ألا ترى إلى ما نحن فيه؟ فأنطلق فآتي تحت العرش، فأقع ساجدا لربي عز وجل، ثم يفتح الله علي من محامده وحسن الثناء عليه شيئا لم يفتحه على أحد قبلي، ثم يقال: يا محمد ارفع رأسك، سل تعطه، واشفع تشفع، فأرفع رأسي فأقول: أمتي يا رب، أمتي يا رب، فيقال: يا محمد أدخل من أمتك من لا حساب عليهم من الباب الأيمن من أبواب الجنة، وهم شركاء الناس فيما سوى ذلك من الأبواب، ثم قال: والذي نفسي بيده، إن ما بين المصراعين من مصاريع الجنة كما بين مكة وحمير، أو: كما بين مكة وبصرى)[1] [3162]

Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah, telah dibawakan daging. Beliau lalu membentangkan tangannya. Beliau menyukai daging tersebut, kemudian Beliau menggigitnya. Beliau bersabda, “Aku adalah pemimpin manusia pada hari kiamat, apakah kamu mengetahui mengapa demikian? Allah akan mengumpulkan orang-orang yang terdahulu dan orang-orang yang kemudian dalam suatu lapangan. Lalu ada seseorang yang menyeru kepada mereka, dan penglihatannya dapat menembus mereka. Matahari dekat kepada mereka. Maka, manusia sampai kepada suatu kebingungan dan kesusahan yang mereka tiada mampu (mengatasinya) dan tidak kuat menaggungnya.

Manusia berkata kepada sebagian lainnya, ‘Apakah kamu tidak melihat apa-apa yang ada pada kamu? Apakah kamu tidak melihat apa-apa yang telah sampai kepada kamu? Apakah kamu tidak melihat siapakah orang yang dapat mensyafaati (membela) kamu kepada Tuhanmu?’

Lalu sebagian manusia berkata kepada sebagian yang lainnya, ‘Datanglah kamu kepada Adam.’ Lalu mereka berkata kepadanya, ‘Engkau adalah Bapaknya manusia, Allah telah menjadikanmu dengan tangan-Nya. Dia meniupkan roh-Nya dan Dia menyuruh para malaikat agar sujud, dan mereka bersujud kepadamu. Syafaatilah kami kepada Tuhanmu! Apakah kamu tidak melihat apa-apa yang ada pada kami? Apakah kamu tidak melihat apa-apa yang telah sampai kepada kami?’

Maka Adam berkata, ‘Sesungguhnya Tuhan-ku telah membenciku pada hari ini dengan kebencian yang belum pernah dia berikan. Sesungguhnya Dia telah melarangku memakan buah suatu pohon (larangan), namun aku melanggarnya. Bagaimana aku dapat memberikan syafaat kepadamu? Pergilah kamu kepada Nuh a.s.’

Lalu mereka datang kepada Nuh dan berkata kepadanya, ‘Wahai Nuh, engkau adalah rasul yang awal di muka bumi dan Allah telah menyebutmu seorang hamba yang sangat bersyukur. Syafaatilah kami kepada Tuhan Kami, apakah kamu tidak melihat apa-apa yang ada pada kami? Apakah kamu tidak melihat apa-apa yang telah sampai kepada kami?’

Maka Nuh berkata kepada mereka, ‘Sesungguhnya Tuhan-ku telah membenciku pada hari ini dengan kebencian yang belum pernah dia berikan. Sesungguhnya aku telah mendoakan celaka atas kaumku. Bagaimana aku dapat memberikan syafaat kepadamu? Pergilah kamu kepada Ibrahim a.s.’

Lalu mereka datang kepada Ibrahim dan berkata, ‘Wahai Ibrahim, engkau adalah nabi Allah dan kekasih-Nya dari penduduk bumi. Syafaatilah kami kepada Tuhanmu, apakah kamu tidak melihat apa-apa yang ada pada kami? Apakah kamu tidak melihat apa-apa yang telah sampai kepada kami?’

Maka Ibrahim berkata kepada mereka, ‘Sesungguhnya Tuhanku telah membenciku pada hari ini dengan kebencian yang belum pernah Dia berikan. –Nabi Ibrahim menyebutkan dusta-dustanya—, bagaimanakah aku dapat memberikan syafaat kepadamu? Pergilah kamu kepada selainku, pergilah kamu kepada Musa a.s.’

Lalu mereka pergi kepada Musa dan berkata, ‘Wahai Musa, engkau adalah utusan Allah, Allah telah menganugerahkan kepadamu dengan risalah-Nya dan firman-Nya atas manusia. Syafaatilah kami kepada Tuhanmu, apakah kamu tidak melihat apa-apa yang ada pada kami? Apakah kamu tidak melihat apa-apa yang telah sampai kepada kami?’

Maka Musa berkata kepada mereka, ‘Sesungguhnya Tuhanku telah membenciku pada hari ini dengan kebencian yang belum pernah Dia berikan sebelumnya. Sesungguhnya aku telah membunuh seorang (manusia), padahal aku tidak diperintahkan untuk membunuhnya. Bagaimana aku dapat memberikan syafaat kepadamu? Pergilah kepada Isa a.s.’

Lalu mereka datang kepada Isa a.s. dan berkata, ‘Wahai Isa, sesungguhnya engkau adalah utusan Allah dan kalimat yang Dia letakkan kepada Maryam, dan kamu berbicara dengan manusia pada waktu dalam buaian. Syafaatilah kami kepada Tuhanmu, apakah kamu tidak melihat apa-apa yang ada pada kami? Apakah kamu tidak melihat apa-apa yang telah sampai kepada kami?’

Maka Isa berkata kepada mereka, ‘Sesungguhnya Tuhanku telah membenciku pada hari ini dengan kebencian yang belum pernah Dia berikan sebelumnya. –Namun dia tidak menyebutkan dosanya—. Bagaimana aku dapat memberikan syafaat kepadamu? Pergilah kamu kepada Muhammad saw.’

Maka mereka datang kepada Nabi Muhammad saw. dan berkata, ‘Wahai Muhammad engkau adalah utusan Allah dan penutup para nabi. Sesungguhnya Allah telah mengampuni bagi Tuan (dosa) yang terdahulu dan yang kemudian. Syafaatilah kami kepada Tuhanmu. Apakah Tuan tidak melihat apa-apa yang ada pada kami?’

Maka Nabi Muhammad pergi, lalu datang di bawah arasy. Beliau bersujud kepada Tuhannya. Kemudian Allah membukakan dan memberitahukan kepada Beliau, yaitu pujian-pujian kepada-Nya dan (ucapan) tanda terima kasih yang baik kepada-Nya. Dia tidak membukakannya bagi seorang pun selain Beliau.

Kemudian Allah berfirman, ‘Wahai Muhammad, angkatlah kepalamu dan mohonkanlah (kepada-Ku), niscaya kamu akan Kuberi, dan mohonlah syafaat (kepada-Ku), niscaya kamu (diizinkan) memberi syafaat.’

Maka Nabi Muhammad mengangkat kepalanya, lalu berkata, ‘Ya Tuhanku, selamatkanlah umatku. Selamatkanlah umatku.’ Lalu dikatakan kepada Beliau saw., ‘Aku akan memasukkan sebagian dari umatmu ke surga, yaitu orang-orang yang tiada hisaban atasnya melalui Baabul Aiman, yaitu salah satu pintu surga. Mereka adalah sekutu-sekutu manusia lainnya mengenai pintu-pintu selain Baabul Aiman.’

Demi Zat yang jiwa Muhammad berada dalam kekuasaan-Nya, sesungguhnya antara dua daun pintu dari pintu-pintu surga seperti jarak antara Mekah dan Hajr, dan seperti jarak antara Mekah dan Bashrah.”—Dalam hadits Bukhari, “… seperti jarak antara Mekah dan Hamilir.”—[2]

 

Syawahid Al-Hadits

حدثنا إسماعيل قال: حدثني مالك، عن أبي الزناد، عن الأعرج، عن أبي هريرة:
أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: (لكل نبي دعوة مستجابة يدعو بها، وأريد أن أختبئ دعوتي شفاعة لأمتي في الآخرة)[3]

Artinya : Memberitahu kepada kami Ismail berkata memberi tahu kepadaku Malik dari Abu Ziyad dari Al-A’raj dari Abu Hurairoh bahwasanya Rasulullah bersabda: “Setiap Nabi mempunyai doa yang terkabul dan aku menginginkan menyimpan doaku sebagai syafaat untuk umatku dihari akhir.”

 

Ayat Al-Qur’an yang Berhubungan

Allah SWT menetapkan adanya syafaat di dalam kitab-Nya dalam banyak tempat dan dengan persyaratan ketat. Allah juga memberitahukan bahwa syafaat itu adalah wewenang-Nya secara penuh, tidak seorang pun yang berhak dan dapat campur tangan.[4] Sebagaimana dalam firman-Nya:

Katakanlah: “Hanya kepunyaan Allah syafaat itu semuanya. Kepunyaan-Nya kerajaan langit dan bumi. Kemudian kepada-Nyalah kamu dikembalikan.”  (az-Zumar: 44)

Allah SWT juga memberitahukan bahwa syafaat itu tidak akan ada atau tidak akan terjadi tanpa seizin-Nya, sebagaimana firman-Nya:

Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya, Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (al-Baqarah: 255)

Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah Yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy untuk mengatur segala urusan. Tiada seorangpun yang akan memberi syafa’at kecuali sesudah ada izin-Nya. (Dzat) yang demikian itulah Allah, Tuhan kamu, maka sembahlah Dia. Maka apakah kamu tidak mengambil pelajaran?

Dan berapa banyaknya malaikat di langit, syafaat mereka sedikitpun tidak berguna, kecuali sesudah Allah mengijinkan bagi orang yang dikehendaki dan diridhai (Nya).” (an-Najm:26)

Dan tiadalah berguna syafa’at di sisi Allah melainkan bagi orang yang telah diizinkan-Nya memperoleh syafa’at itu, sehingga apabila telah dihilangkan ketakutan dari hati mereka, mereka berkata “Apakah yang telah difirmankan oleh Tuhan-mu?” Mereka menjawab: (Perkataan) yang benar”, dan Dia-lah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (Saba’: 23)

Ayat di atas menerangkan bahwa pemberian syafa’at hanya dapat berlaku dengan izin Tuhan. Orang-orang yang akan diberi izin memberi syafa’at dan orang-orang yang akan mendapat syafa’at merasa takut dan harap-harap cemas atas izin Tuhan. Tatkala takut dihilangkan dari hati mereka, orang-orang yang akan mendapat syafa’at bertanya kepada orang-orang yang diberi syafa’at: Apa yang dikatakan oleh Tuhanmu?. Mereka menjawab: Perkataan yang benar, yaitu Tuhan mengizinkan memberi syafa’at kepada orang-orang yang disukai-Nya yaitu orang-orang mukmin.[5]

Kemudian mengenai  siapa yang berhak memberikan syafaat, Allah menjelaskan bahwa syafaat itu hanya terjadi jika Dia mengizinkannya. Izin untuk memberikan syafaat Dia khususkan kepada para kekasih-Nya, orang-orang yang bertaqwa, yang diridhoi-Nya, dan dipilih-Nya, sebagaimana firman-Nya:

Pada hari, ketika ruh dan para malaikat berdiri bershaf- shaf, mereka tidak berkata-kata, kecuali siapa yang telah diberi izin kepadanya oleh Tuhan Yang Maha Pemurah; dan ia mengucapkan kata yang benar.” (an-Naba’: 38)

Mereka tidak berhak mendapat syafa’at kecuali orang yang telah mengadakan perjanjian di sisi Tuhan Yang Maha Pemurah.” (Maryam: 87)

Maksudnya: mengadakan perjanjian dengan Allah ialah menjalankan segala perintah Allah dengan beriman dan bertakwa kepada-Nya. [6]

Lalu mengenai siapakah yang berhak menerima syafaat itu? Allah membatasi penerima syafaat itu hanya di kalangan orang yang diridhai-Nya, sebagaimana firman-Nya:

Allah mengetahui segala sesuatu yang dihadapan mereka (malaikat) dan yang di belakang mereka, dan mereka tiada memberi syafaatmelainkan kepada orang yang diridhai Allah, dan mereka itu selalu berhati-hati karena takut kepada-Nya.” (al-Anbiya’: 28)

Pada hari itu tidak berguna syafa’at, kecuali (syafa’at) orang yang Allah Maha Pemurah telah memberi izin kepadanya, dan Dia telah meridhai perkataannya.” (Thaha: 109)

Allah SWT hanya meridhai pemberian syafaat kepada ahli tauhid dan ikhlas. Adapun tentang orang selain mereka, Dia berfirman:

Berilah mereka peringatan dengan hari yang dekat (hari kiamat yaitu) ketika hati (menyesak) sampai di kerongkongan dengan menahan kesedihan. Orang-orang yang zalim tidak mempunyai teman setia seorangpun dan tidak (pula) mempunyai seorang pemberi syafa’at yang diterima syafa’atnya. ” (al-Mu’min: 18)

Maka kami tidak mempunyai pemberi syafa’at seorangpun, dan tidak pula mempunyai teman yang akrab, ” (asy-Syu’ara’: 100-101)

Maka tidak berguna lagi bagi mereka syafa’at dari orang-orang yang memberikan syafa’at .” (al-Muddatstsir: 48)

 

Syarah Ulama

Perdebatan tentang syafaat nabi kepada umatnya telah terjadi sejak dahulu dan masih berlangsung hingga sekarang. Salah satu pihak memandang bahwa syafaat tersebut hanya untuk meninggikan derajat bagi orang-orang beriman dan tidak melakukan dosa. Sedangkan pihak lain juga menyatakan bahwa syafaat tersebut berfungsi untuk menghapus dosa dan mengeluarkan orang-orang yang telah disiksa di neraka untuk memasuki surga, sebab di dalam hatinya pasti masih memiliki kebaikan walaupun hanya seberat biji sawi.[7]

Dalam hadits menerangkan bahwa tidak ada yang bisa memberikan syafaat kepada sekelompok orang yang meminta syafaat, kecuali Rasulullah. Ketika sekelompok orang tersebut mendatangi Rasulullah, maka Rasul segera menghadap Allah dan memohon kepada Allah agar diringankannya penderitaan umatnya dan memohon agar umat Beliau masuk surga. Allah pun mengabulkan doa Rasulullah dengan rahmat-Nya dan mengampuni dosa.

Adapun syafaat Nabi tersebut berupa doa. Satu hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah menyatakan bahwa Rasulullah akan mendoakan umatnya di hari akhir agar terbebas dari siksa api neraka. Doa Nabi Muhammad tersebut merupakan keutamaan Beliau atas semua nabi-nabi sebelumnya, doa itu akan diberikan kepada keluarganya dan kepada umatnya. Ibn Bathal mengatakan bahwa hadits tersebut merupakan penjelasan keutamaan Rasulullah atas seluruh nabi-nabi terdahulu pada umatnya lewat doanya yang terkabul bagi umatnya dan keluarganya. Sedangkan al-Sindi mengutarakan bahwa sesungguhnya syafaat itu hanya untuk meninggikan derajat dan bukan bagi orang-orang yang melakukan dosa besar, mereka akan kekal di neraka. Menurut Ibn Mas’ud, orang yang melakukan dosa besar akan diazab, sedangkan bila ia meninggal mengucapkan dua kalimat syahadat maka ia akan dikeluarkan dari neraka.

Mazhab ahli sunnah berpendapat bahwa barangsiapa yang mati dalam keadaan Tauhid, maka ia akan masuk surga, dan bagi orang yang bertaubat ia mendapat karunia masuk surga. Jika ia mati dalam belum bertaubat, maka hal itu diserahkan sepenuhnya kepada kehendak Allah yang akan mengampuni atau tidak. Sedangkan orang yang melakukan dosa besar dan dia masih meng-esakan Allah, maka baginya akan masuk surga. Untuk orang-orang kafir yang melakukan kebaikan di dunia dia tetap kekal di neraka.

Al-Qadhi al-‘Iyad berkata bahwa bagi golongan Mu’tazilah syafaat Nabi hanya untuk meninggikan derajat saja. Sedangkan al-Nawawi mengutarakan beberapa syafaat nabi Muhammad bagi umatnya, yaitu: (1) Melapangkan orang-orang yang berada di surga, (2) Masuknya segolongan umat tanpa hisab, (3) Menghapus dosa, (4) Megeluarkan orang-orang yang berbuat dosa dari neraka, (5) Mengangkat derajat, (6) meringankan dosa Abu Thalib, (7) bagi orang yang meninggal di Madinah.

 

KONTEKSTUALISASI

Jika kita melihat pada saat ini banyak orang yang mengaku cinta kepada Allah, cinta kepada Nabi tetapi sebenarnya mereka tidak mengenal siapa Allah dan siapa Nabi Muhammad. Jadi untuk melahirkan kecintaan kita kepada Nabi Muhammad kita harus mengenalnya terlebih dahulu. Dengan cinta kita kepada Rasul, maka Rasul pun juga akan mencitai kita.

Shalawat pada zaman sekarang pun juga sedang tenar, seperti shalawat Habib Syekh yang sedang memboming masyarakat kini. Tetapi yang harus diperhatikan bahwa jangan hanya dengan kita menyanyikan shalawat kepada Rasul, kita hanya menyanyikan shalawat saja. Tetapi ditandai dengan mengikuti sunah nya dan menjalankan syariat yang diajarkan kepada Nabi Muhammad.

 

ANALISIS

Secara garis besar, semua umat islam meyakini adanya syafaat yang diberikan oleh Allah kepada hamba-hambanya di akhirat nanti. Syafaat dapat berupa pelipatgandakan pahala atau balasan manusia atas apa yang telah diperbuat di dunia. Syafaat juga diartikan sebagai keringanan atau dihapuskannya dosa bagi orang-orang yang telah melakukan kesalahan di dunia juga syafaat berarti keluarnya orang-orang yang berdosa besar dari neraka suatu saat kelak.

Suatu paham mengartikan bahwa syafaat itu diberikan kepada orang-orang yang telah melakukan dosa besar. Dosa besar yang semestinya menerima azab, akan tetapi mereka terbebas dari azab-Nya, juga diberikan kepada orang-orang yang diridhai-Nya sebagaimana dalam firman Al-Anbiya ayat 28. Itulah menurut faham Asy’ariyah.

Kaum Mu’tazilah berpendapat bahwa syafaat Nabi hanya untuk menambah derajat dan pahala bagi orang-orang mukmin, sedangkan al-Zamakhsyari mengemukakan bahwa syafaat itu tidak bisa diberikan kepada para pelaku maksiat dengan alasan bahwa tidak ada orang yang bisa menanggung hak orang lain, baik dengan melakukan apa yang semestinya dijalankan orang lain ataupun membebaskan orang lain dari kewajibannya. Maka dari itu syafaat hanya berlaku dalam pengertian menambah anugerah yang telah diberikan Allah.[8]

Menurut kami syafaat diberikan kepada orang-orang yang diridhoi oleh Allah. Diridhoi disini dimaksudkan bahwa seluruh orang, baik yang melakukan dosa besar maupun kecil, jika ia diridhoi oleh Allah mendapatkan syafaat Nabi Muhammad, maka ia akan mendapatkannya. Ini seperti yang tertera dalam Al-Qur’an surat al-Anbiya ayat 28.

Syafaat juga bisa diartikan menjadi tiga. Pertama Syafaat Nabi untuk didunia. Ini ditandai oleh hadis yang menerangkan suatu ketika Nabi didatangi seseorang yang mengalami kebutaan. Lalu orang tersebut meminta kepada Nabi Muhammad untuk mendoakannya agar disembuhkan dari penyakitnya. Lalu setelah beberapa saat, penyakit orang itu sembuh. Lalu syafaat Nabi di padang mahsyar yang dinamakan syafaat al-Qubra, yaitu safaat ketika umat manusia memikirkan nasibnya sendiri, kecuali nabi Muhammad yang memikirkan umatnya. dan syafaat Nabi setelah masa peritungan yang dinamakan dengan syafaat al-Udma, yaitu syafaat yang diberikan setelah manusia dihisab amal kebaikannya. Perhitungan amal tersebut sesuai dengan amal perbuatannya di dunia. Bagi orang-orang yang dimasukkan oleh Allah ke neraka karena dosa-dosa besar mereka didunia, kelak akan dikeluarkan oleh Allah melalui syafaat Nabi. Keluarnya ahli neraka tersebut disebabkan mereka masih mengesakan Allah dan meninggal dalam keadaan mu’min walaupun hanya tersisa dalam hatinya kebaikan dari iman seberat biji sawi.

KESIMPULAN

Kita sebagai Umat Nabi Muhammad dituntun untuk selalu mengikuti ajaran-ajaran Beliau. Mencintai Nabi Muhammad tidak hanya dengan mengikuti ajarannya saja, tetapi juga dengan cara bershalawat atas Beliau. Betapa cintanya Rasul kepada umatnya, itu ditandai dengan adanya pemberian syafaat Rasul kepada umatnya besok di hari kiamat.

Syafaat Nabi untuk umatnya terdiri dari syafaat didunia, syafaat Nabi di padang mahsyar yang dinamakan syafaat al-Qubra, dan syafaat Nabi setelah masa peritungan yang dinamakan dengan syafaat al-Udma.

Kita semua percaya bahwa amal shaleh yang kita lakukan jauh lebih sedikit dari amal salah yang sering kita perbuat. Oleh karena itu, karena kasih-Nya kepada kita, Allah memberikan wewenang kepada rasul untuk memberi syafaat. Alangkah bahagianya kita jikalau mendapatkan syafaat Rasul besok di hari akhir.


[1] Shohih Bukhari[3162]

Shohih Muslim juz I(Beirut. Dar al-Fikr.tt) hlm 127-29. A-Tirmidzi,juz IV, hlm 43-45

[2] Syekh Ahmad Hijaazi; Drs. Sofyan Suparman (penerj.), Al-Majalisus Saniyyah: SyarahHadis Arba’in Nawawi, (Bandung: Trigenda Karya, 1995), hlm: 550-552.

[3] Sohih Bukhari.

[4] Syekh Hafizh Hakami, 200 Sual Wa Jawab Fi Al-Aqidah Al-Islamiyah (terjemahan: As’ad Yasin), Jakarta: Gema Insani, hlm.150

[5] Departemen Agama RI, Al Qur’an Tafsir Per Kata Tajwid Kode Angka, Banten: PT Kalim, hlm.432

[6] Departemen Agama RI, op.cit., hlm. 312

[7] Untung Tri Wanarso, Skripsi: Hadis-Hadis tentang Syafaat (Studi Ma’anil Hadis), 2004.

[8] Al-Zamakhsyari, al-Kasyaf, Jilid I, (ttp: Intisyarat Aftab Tamran, tth). Hlm. 214-215, 291.



{11/19/2011}   Gerakan Sanusiyah

A.    Sejarah Lahirnya Gerakan Sanusiyah

Berawal dari imperium Turki Ottoman yang mulai melemah yang disebabkan kemunduran ekonomi di dunia Islam dan kemerosotan pada bidang budaya karena para pembesar Turki mulai mendewakan gaya hidup hedonis. Hal ini mengundang keprihatinan sebagian tokoh-tokoh muslim, di antaranya Jamaluddin Al-Afghani dan Muhammad Abduh. Mereka mengajak umat Islam untuk merekonstruksi Islam, antara lain dengan menata kembali perekonomian, pengetahuan dan keilmuwan.

 

Di sisi lain dari wilayah Turki Ottoman, lahirlah sebuah gerakan—yang disebut gerakan Sanusiyah—yang di pelopori oleh Muhammad Ali As-Sanusi.  Syeikh Muhammad bin Ali as-Sanusi dilahirkan pada hari Isnin 12 Rabiul Awal 1202H/22 Disember 1787M di sebuah tempat yang bernama al-Wasitah, di Mustaghanim, Algeria. Syeikh Muhammad Ali as-Sanusi adalah seorang ulama yang ikhlas dan suka merendahkan dirinya. Oleh itu, beliau telah mencapai kemajuan yang pesat di atas jalan kerohanian. Tarekatnya bebas dari syirik dan khurafat. Beliau menyeru kepada ijtihad dan memerangi taqlid. Syeikh as-Sanusi yang bermazhab Maliki, akan menyalahi pendapat mazhabnya jika ada mazhab lain yang lebih mendekati kepada kebenaran.

 

Muhammad bin Ali As-Sanusi adalah seorang pemimpin dari pemimpin Islam dari Afrika Utara abad ke-19 yang paling berpengaruh. Ia menciptakan suatu organisasi yang merambah sebagian besar dari Sahara tengah dan ujung padang pasir dan mempunyai pengaruh yang sangat luas lagi mendalam pada masyarakat Badui pada negeri yang sekarang ini terkenal dengan nama Libya. Tarikat ini memainkan peranan yang sangat penting dalam melawan Perancis di Sahara dan Italia di Cirenaica dan merupakan musuh bebuyutan terhadap kemajuan dan pemikiran kaum kolonialis. Cucunya menjadi penguasa pertama Libya merdeka. Memang wilayah yang kemudian terkenal dengan nama Libya dalam beberapa hal dapat dikatakan timbul dari kegiatan-kegiatan tarikat-tarikat Sanusiyah.

 

Namun demikian, cikal bakal pendiri utama, yaitu As-Sanusi, bukan merupakan pemikir atau pemimpin politik. Perhatian dan kegiatannya sepenuhnya berpusat sekitar dunia agama dan ilmu pengetahuan. Dalam tulisannya tidak ditemukan tanda-tanda perhatiannya terhadap penjajahan Barat atau Kristen di negeri-negeri Islam. Organisasi yang mempunyai pengaruh yang begitu luas dalam kehidupan Sahara tengah dan ujung padang pasir ini hanya merupakan organisasi agama suatu tarikat sufi. Maka sejarah As-Sanusiyah merupakan sejarah transformasi dari struktur agama pada struktur politik. Hal ini terjadi dengan perantaraan menggabungkan sifat-sifat spiritual dari tarikat sufi dengan identitas etnis orang-orang Badui Sahara dan rakyat sekitarnya menjadi satu kesatuan yang boleh dikatakan sebagai protonasionalis.

B.     Pengaruh Gerakan as-Sanusiyah

Perkembangan gerakan as-Sanusiyah melalui zawiyat-zawiyat alami(oasa-oasa gunung sahara), ridwan marbud (penjaga atau pengurus masjid), gerakan sanusiyah terus berkelana atau berdakwa untuk masyarakat yang telah lalai terhadap ajaran islam,tidak dinamis, dan fatalis atau orang yang menyerah saja pada nasib.

 

Selain berdakwah untuk masyarakat islam, tariqat sanusiyah juga aktif berdakwah kepada beberapa suku afrika yang masih menyembah berhala, misalnya suku baele di negri Ennedi atau di sebelah Borku yang masih menyembah batu dan suku Tedas Ditu atau Tibesti atau di Gurun Sahara di sebelah Fezzan. Tariqat ini juga berhasil mengislamkan Masy di negri Galla. Setelah menjalani aktiselama [puluhan tahun dan sukses , tarikat sanusiah menjadi suatu garakan penting dalam islam, gerkan ini memilki rumah-rumah peribadatan yang tersebar, mulai dari mesir sampai jauh ke pedalamn Maroko dan daerah-daerah oase di gurun Sahara dan Sudan .pengikut baru juga datang dari Afrika utara tarikat sanusiah menyebar atau masuk ke Senegal Gambia, dan Somalia Melaki Sudan. Pengaruh tarikat Sanusiah juga terdapat di Mekah ,Madinah, Iran,Irak dan bahkan sampai ke Indonesia dan Malaysia

Sepanjang perkembangan dan perluasannya , gerakan sanusiah tetap memegang teguh ajaran asli dari Sanusi al-kabir. Gerakan AS-sanusiah mencapai puncaknya pada kepemimpinan Said Al-mahdi 1858-1902, baik dari sgi jumlah Zaiwiyyah maupun pengaruhnya. Jagbub tetap menjadi pusat gerakan, hingga Kufrah di jadikan ibu kota bagi gerakan sanusiah . Corak Pemikiran AS-Sanusi :

  • Sanusiyah merupakan gerakan dakwah Islam, islah dan tajdid.
  • Secara umumnya mereka berpegang dengan al-Quran dan al-Sunnah dengan pengaruh tasawuf.
  • Ia muncul di Libya pada kurun ke-13 H.
  • Tersebar luas hingga ke Selatan Afrika, Sudan, Somalia dan sebahagian negara Arab.
  • Gerakan ini terpengaruh dengan al-Imam Ahmad bin Hanbal, Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah, Abu Hamid al-Ghazali.
  • Gerakan ini juga terpengaruh dengan tasauf yang bersih dari syirik dan khurafat seperti bertawassul dengan orang mati dan orang soleh.
  • Pengasas gerakan ini adalah Muhammad bin Ali as-Sanusi yang bermazhab Maliki, namun beliau akan menyalahi mazhab berkenaan jika di sana ada kebenaran bersama mazhab lain.
  • Dalam berdakwah kepada Allah, gerakan ini menggunakan cara lembut dan berhikmah.
  • Mereka menekankan dalam kerja-kerja tangan dan sentiasa berjihad Fi Sabilillah menentang penjajah, Salibi dan sebagainya.

 

Oleh penulis-penulis Barat, As-Sanusi dan tarikatnya sering sekali disebut sebagai reformasi atau pembaharu dan revivalis atau pembangkit. Sebutan yang kedua, misalnya, ditemukan dalam buku Nicola A. Ziyadeh, Sanusiyah Study Of Revivalist Movement in Islam (Leiden, 1958), sedangkan sebutan yang pertama misalnya ditemukan dalam buku Muhammad Al-Thayyib Idris Al-Ashab, The Great Sanusi Exposition and Analysis of The Basis of The Sanusi Reform Movement/As-Sanusi Al-Kabir : Ard wa Tahlil li Di’amat Harakat al-Islah as-Sanusi. Tetapi sebutan-sebutan di atas baru-baru ini mendapatkan kritikan. Mereka mengatakan bahwa dalam pikiran-pikiran as-Sanusi sedikit sekali ajaran-ajaran yang dapat dikatakan reformasi atau pembaharuan, dan bahwa as-Sanusi dan pemikir-pemikir Muslim abad ke-19 itu pada asasnya hanya meneruskan arah yang sudah ada pada abad-abad sebelumnya. Kami kira as-Sanusi memang dapat dikatakan sebagai seorang pembaharu dalam tradisi. Selain seorang sufi, as-Sanusi juga ulama yang menguasai berbagai cabang ilmu pengetahuan Islam. Ia seorang sufi dalam pekerjaannya mendirikan zawiyah-zawiyah (pondok-pondok/pesantren-pesantren), tetapi dari sebagian besar tulisannya kita menemukan sebagai ulama tradisional yang mendalami berbagai cabang ilmu pengetahuan Islam. Barangkali yang paling menonjol adalah pembahasannya tentang prinsip-prinsip hukum Islam. Panggilannya untuk Ijtihad, yang pandangan-pandangan itu sangat berlawanan dengan ulama-ulama terkemuka di Kairo dan pusat-pusat keilmuwan Islam pada waktu itu. Ide-ide yang diajukan as-Sanusi yang berlawanan dengan pendapat para ulama waktu itu sebenarnya tidaklah timbul dari pikirannya sendiri. Sebagian besar pikirannya itu ada antisidennya dalam keilmuwan Islam, tetapi pada waktu itu ditolak atau dianggap tidak sah oleh para penguasa. As-Sanusi memperbaharui ide-ide itu dan dalam waktu yang sama membawa ide-ide itu dalam praktek dengan perantaraan tarikat, suatu organisasi yang dalam beberapa hal strukturnya berbeda dari sebagian besar tarikat-tarikat sufi pada waktu itu, bahkan pada dewasa ini. Jadi pembaharuan tarikat sanusiyah adalah kombinasi antara ide dan organisasi, antara teori dan praktek di padang pasir.



{11/18/2011}   Hello world!

Welcome to WordPress.com. After you read this, you should delete and write your own post, with a new title above. Or hit Add New on the left (of the admin dashboard) to start a fresh post.

Here are some suggestions for your first post.

  1. You can find new ideas for what to blog about by reading the Daily Post.
  2. Add PressThis to your browser. It creates a new blog post for you about any interesting  page you read on the web.
  3. Make some changes to this page, and then hit preview on the right. You can always preview any post or edit it before you share it to the world.


et cetera